SEMUA ORANG BERPIKIR UNTUK MENGUBAH DUNIA

TETAPI TAK SEORANG PUN YANG BERPIKIR

UNTUK MENGUBAH DIRI NYA

SEMUA ORANG BERPIKIR UNTUK MENGUBAH DUNIA

TETAPI TAK SEORANG PUN YANG BERPIKIR

UNTUK MENGUBAH DIRI NYA

SEMUA ORANG BERPIKIR UNTUK MENGUBAH DUNIA

TETAPI TAK SEORANG PUN YANG BERPIKIR

UNTUK MENGUBAH DIRI NYA

SEMUA ORANG BERPIKIR UNTUK MENGUBAH DUNIA

TETAPI TAK SEORANG PUN YANG BERPIKIR

UNTUK MENGUBAH DIRI NYA

SEMUA ORANG BERPIKIR UNTUK MENGUBAH DUNIA

TETAPI TAK SEORANG PUN YANG BERPIKIR

UNTUK MENGUBAH DIRI NYA

22 TAHUN

Diposting oleh Depriwanto Sitohang Adhinagoro On 23.19 7 komentar



di desa lae hole,tepat tengah malam seperti ini pada 22 tahun yang lalu,seorang IBU mengalami kontraksi yang begitu kuat. dengan segala kekuatannya, sang ibu terus berjuang dan berjuang...
dengan kecemasan, sang AYAH selalu setia mendampinginya
hingga akhirnya ,lahirlah seorang bayi laki laki,yaitu AKU.

dan 22 tahun setelah itu,tepat pada hari ini,aku pun telah beranjak dewasa.
aku sadar, ternyata pengorbanan serta kecemasan AYAH dan IBUKU tidak sampai disitu saja.bahkan hingga detik ini dan untuk selamanya,mereka masih terus berjuang demi AKU. di usianya yang semakin lanjut,AYAH DAN IBUKU sepertinya tidak kenal lelah untuk AKU dan saudara - saudaraku.



terima kasih papa...
buat pelajaran hidup,pengorbanan,kesetiakawanan,kejujuran,dan berketuhanan yang engkau tanamkan dalam hidupku

terima kasih mama...
buat kelemah lembutan,kesabaran,kerendahan hati,dan ketulusan yang engkau tanamkan dalam hidupku

kasihmu tiada batas..........................

seiring usia ku yang semakin dewasa pun,muncul sebuah pertanyaan dalam hatiku:
'apa yang telah aku perbuat untuk AYAH DAN IBUKU?'
......................................................
setelah kurenungkan,,ternyata belum ada yang aku perbuat untuk mereka. tiada hal yang membanggakan untuk mereka ceritakan...seperti yang dapat aku banggakan dari mereka kepada dunia.

durhakakah AKU?..................mungkin iya!
tapi mereka tidak pernah menganggapku demikian,karena kasihnya tiada batas,kesabarannya tiada berujung,pengorbanan mereka,dan segalanya hanya untuk aku..
SUNGGUH MULIA

terima kasih PAPA..
maaf,belum bisa membuatmu bangga .. aku akan berjuang untuk itu
terima kasih MAMA..
maaf,belum bisa membuatmu bangga .. aku akan berjuang untuk itu

;;;;;;;;;;;;;
TUHAN YESUS,TERIMA KASIH UNTUK USIA KU INI... TERIMA KASIH UNTUK KASIH AYAH DAN IBUKU
BERIKAN MEREKA PANJANG UMUR SERTA KEKUATAN DALAM SETIAP LANGKAH, SERTA BERIKANLAH AKU KESEMPATAN UNTUK DAPAT MEMBUAT MEREKA BAHAGIA.

SERTAI DAN BIMBINGLAH KAMI SELALU,UNTUK BERBUAT DAN BERKARYA JAUH LEBIH BAIK DARI HARI INI

DALAM NAMA TUHAN YESUS,,, A M I N

Dalihan Natolu System Demokrasi Versi Batak

Diposting oleh Depriwanto Sitohang Adhinagoro On 06.50 2 komentar
Dalihan Natolu sebagai system kekerabatan orang batak ternyata mempunyai nilai yang tidak kalah dengan system lain yang sangat populer saat ini, yaitu Demokrasi. “Dalihan Natolu” ini melambangkan sikap hidup orang batak dalam bermasyarakat. Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (bahasa Simalungun). Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku” dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”. Keduanya mengandung arti yang sama, ‘3 POSISI PENTING’ dalam kekerabatan orang Batak yang terdiri dari :

1. HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu keluarga marga pihak istri. Relasinya disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri. “Hula-Hula” adalah Orang tua dari wanita yang dinikahi oleh seorang pria, namun hula-hula ini dapat diartikan secara luas. Semua saudara dari pihak wanita yang dinikahi oleh seorang pria dapat disebut hula-hula. Marsomba tu hula-hula artinya seorang pria harus menghormati keluarga pihak istrinya. Dasar utama dari filosofi ini adalah bahwa dari fihak marga istri lah seseorang memperoleh “berkat” yang sangat didominasi oleh peran seorang istri dalam keluarga. Berkat hagabeon berupa garis keturunan, hamoraon karena kemampuan dan kemauan istri dalam mengelola keuangan bahkan tidak jarang lebih ulet dari suaminya, dan dalam hasangapon pun peran itu tidak kurang pentingnya. Somba marhulal-hula supaya dapat berkat.
2. BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Boru adalah anak perempuan dari suatu marga, misalnya boru Hombing adalah anak perempuan dari marga Sihombing. Prinsip hubungan nya adalah ELEK MARBORU artinya harus dapat merangkul boru/sabar dan tanggap. Dalam kesehariannya, Boru bertugas untuk mendukung/membantu bahkan merupakan tangan kanan dari Hula-hula dalam melakukan suatu kegiatan. Sangat diingat oleh filosofi ELEK MARBORU, bahwa kedudukan “di bawah” tidak merupakan garis komando, tetapi harus dengan merangkul mengambil hati dari Boru - nya
3. DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga .Prinsip Hubungannya adalah MANAT MARDONGAN TUBU, artinya HATI-HATI menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

Dalihan Na Tolu ini menjadi pedoman hidup orang Batak dalam kehidupan bermasyarakat.Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut; ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.

Namun ada beberapa hal negatif dari budaya batak yang harus kita tinggalkan, misalnya budaya banyak bicara sedikit bekerja. Memang orang batak terkenal pintar berbicara. Hal ini terlihat dari banyaknya pengacara-pengacara batak yang sukses. Akan tetapi kepintaran berbicara ini sering disalahgunakan untuk membolak-balikan fakta. Yang hitam bisa jadi putih dan yang putih bisa jadi hitam ditangan pengacara batak (walaupun tidak semua). Hal lain yang negatif adalah budaya “HoTeL”. HoTeL adalah singkatan dari: Hosom yang artinya dendam. Konon orang batak suka mendendam sesama saudara. Teal yang artinya sombong, yang dapat terlihat dari cara bicara, sikap hidup, dll. Late yang artinya Iri Hati. Apakah HoTeL ini hanya ada pada orang Batak saja? Kita sebagai generasi muda harus dapat mempertahankan budaya yang positif dan meninggalkan yang negatif.

dikutip dari berbagai sumber
|
Medan
Kadis Bina Marga Provsu Ir Umar Zunaidi Hasibuan MM mengatakan, ketersediaan dana kendala utama perbaikan sejumlah ruas jalan nasional di Sumut tahun anggaran (TA) 2009. Padahal, dari 2.098 km panjang jalan nasional yang ada, 40% di antaranya dalam kondisi rusak.
Demikian Umar, Jumat (15/5) di kantor Gubsu seusai pelantikan pejabat eselon II di jajaran Pemprovsu. Disebutkan, total dana perbaikan yang dibutuhkan mencapai Rp3,4 triliun. Namun yang dipenuhi Depertemen PU TA 2009 ini hanya 20% atau sekitar Rp600-Rp700 miliar saja.
“Jadi bagaimana kita bisa menyelesaikan perbaikan seluruh ruas jalan nasional yang rusak itu,” ujar Umar Zunaidi seraya mengakui, walau dana perbaikan yang diterima minim, bukan berarti seluruh ruas jalan nasional yang rusak itu tidak diperhatikan pihaknya. Contohnya perbaikan ruas jalan sepanjang 10 km antara Desa Bulu Soma dengan Desa Tombang Kaluang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina).
Sepanjang ruas jalan ini, sedikitnya terdapat sembilan titik yang rusak parah. Kerusakan itu menyebabkan arus transportasi hasil bumi dari Kabupaten Madina ke daerah lain menjadi terkendala, dan bahkan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.
“Perbaikan ruas jalan itu sedang dikerjakan. Karena proyeknya multi years, yakni mulai tahun 2007, 2008, dan 2009 diproyeksikan sudah rampung seluruhnya,” ujarnya.
Perbaikan ruas jalan nasional lainnya, seperti ruas jalan Medan-Dairi yang rusak sekitar 70-100 km, juga diakui Umar menjadi perhatian pihaknya. “Untuk ruas ini, kita sudah minta ke Departemen PU segera diperbaiki dengan menampung pendanaan pada APBN-P 2009. Jadi, kita hanya menunggu apa realisasi dari pusat,” ujarnya.
Perbaikan ruas jalan nasional lainnya yang juga diperhatikan, dirincikan Umar seperti Tarutung-Sipirok, Tarutung-Sibolga, Kabanjahe-Kuta Buluh-Lau Pakam, Kabanjahe-Merek-Simpang Panji-Sidikalang sampai Batas Aceh, dan ruas Dolok Sanggul-Simpang Panji.
“Seluruh ruas ini masuk progres perampungan hingga akhir 2009, termasuk sejumlah ruas jalan di kawasan Pantai Barat Sumut yang juga berkondisi cukup parah. Untuk realisasinya, kita bersama DPRD Sumut sudah bertemu dengan Departemen PU dan DPR-RI agar proses perampungan ruas jalan tersebut dipercepat,” tegasnya.
Umar juga merincikan perbaikan jalan provinsi yang sepanjang 2.752 km. Menurutnya, dari total panjang jalan itu, sekitar 40% kondisinya rusak. Dan pendanaan untuk perbaikannya sudah ditampung pada APBD Sumut 2009.
“Berapa nilai perbaikannya saya tidak ingat rinciannya. Namun, dari 40% total kerusakan jalan provinsi itu, proses perbaikannya sudah mencapai 90% yang kini sedang dikerjakan termasuk proses tendernya,” ujarnya.